artSpace Studio

Home Design

Telanjang di sekolah…gambaran wajah pendidikan kita.

Sungguh memprihatinkan dunia pendidikan kita, sangat jelas terlihat kesenjangan dunia pendidikan kita. Di kota dan di desa, si kaya dan si miskin, anak pejabat dan anak petani. Di kota segala sesuatunya di dapatkan dengan segala kemudahan. Tenaga pengajarnya juga terbilang banyak, dengan berbagai embel-embel gelar dan trek record yang sudah tak terbilang lagi. Segala fasilitas yang memadai, mulai dari pakaian sekolah sampai akses internet yang bagi anak-anak pedesaan terasa sangat asing, seasing membayangkan makhluk luar angkasa.

Anak -anak di pedesaan apalagi dibagian pedalaman juga merupakan tunas-tunas bangsa yang nantinya akan menentukan juga sejarah bangsa kita kedepannya. Pemandangan yang akan kita dapatkan kalau suatu saat berkunjung ke suatu daerah terpencil sangat menggugah rasa simpati kita. Anak-anak sekolah disana hampir semuanya telanjang. Yah, ada yang telanjang kaki, telanjang dada, telanjang atap dan telanjang lantai…di sekolahnya hehehehe. Untungnya masih ada orang-orang atau kelompok-kelompok yang peduli dengan mereka. Dengan tekad dan keikhlasan berusaha memberikan apa yang telah menjadi hak anak-anak ini seperti terlihat disini.

Sebenarnya banyak sekali sesuatu yang telanjang disekitar kita yang luput dari perhatian. Mungkin karena terlalu sering merujuk kata telanjang ke situs-situs dewasa. Contohnya sesuatu yang benar-benar telanjang tapi luput dari perhatian kita. Tapi pastikan dulu kalau anda telah berusia diatas 17 tahun, kalau anda benar-benar ingin lihat klik saja disini.  Mereka juga butuh perhatian kita.

Terima kasih sudah membaca artikel ini. Semoga bisa mengisi waktu senggang anda ditengah padatnya aktifitas. Salam…..

Januari 7, 2010 Posted by | Pendidikan | , , | 2 Komentar

Arsitektur Minimalis

…Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan sebuah project rumah tinggal dari Bpk. A (…sebut saja demikian). Konsep dari project desain ini adalah sebuah bangunan rumah tinggal dengan gaya minimalis. Sebenarnya Arsitektur gaya minimalis di daerah saya bukanlah hal baru, seiring dengan pesatnya perkembangan informasi. Bangunan-bangunan lama sudah “tergusur” dengan bangunan-bangunan modern yang katanya lebih mencirikan gaya hidup pemiliknya. Saya juga tidak terlalu mengerti apakah ini sebuah perkembangan atau pergesaran nilai-nilai budaya, tapi itulah arsitektur tetap memiliki ruang dimana pun berada. Ok…lanjut curhatnya (hehehehe…), awalnya sempat bingung karena kekurangan literatur dan memang belum berpengalaman mendesain rumah minimalis. Tapi akhirnya saya sadar, bahwa ini merupakan tantangan dan juga jawaban atas disiplin ilmu yang selama ini saya banggakan di kampus saya tercinta…akhirnya saya terima tantangan beliau dengan sikap proffesionalisme (..hA..hA..hA..hA..). Mengutip satu kalimat dari seorang figur yang sangat saya hormati:
.melaju sajalah…sedikit cedera kadang diperlukan untuk kembalikan kita ke jalur yang benar….
…well, begitulah kira-kira. Tanpa adanya sebuah eksperimen, mana mungkin ada penemuan-penemuan. Akhirnya project tersebut berjalan mulus sesuai dengan waktu yang telah ditentukan!. Hasilnya bisa dilihat di Galeri artSpace Studio dengan tag “Borobudur Home”.
Sepenggal cerita tentang arsitektur gaya minimalis.
Arsitektur gaya minimalis yang kini tengah marak sebenarnya bukan bentuk arsitektur baru. Sejak awal tahun 1920-an sampai bersinar kembali pada tahun 1990-an, telah hadir dengan faktor pemicu interpretasi dan aplikasi “simplicity” yang khas dari satu arsitek dengan arsitek lainnya.  Sebenarnya, Le Corbusier dan Ludwig Mies Van Der Rohe adalah dua dari sekian banyak arsitek yang memberi pengaruh warna kesederhanaan (simplicity) yang signifikan dalam dinamika arsitektur minimalis sejak dulu hingga kini. Kritikus seni Juan Carlos Rego dalam buku Minimalism: Design Source (page one, Singapore,2004) mengungkapkan, minimalis merupakan pendekatan estetika yang mencerminkan kesederhanaan. Fenomena ini tumbuh di berbagai bidang, seperti seni lukis, patung, interior, arsitektur, mode dan musik. Akan tetapi, awal pertumbuhan dan faktor pemicu tumbuhnya diberbagai bidang bersifat khas dan tidak dapat digeneralisasi.
Minimalis dalam arsitektur menerapkan hal-hal yang bersifat essensial dan fungsional. Bentuk-bentuk geometris elementer tanpa ornamen atau dekorasi menjadi karakternya. Mengacu pada pendapat Carlos Rego itu, dapat dikatakan arsitektur minimalis mulai tumbuh pada awal abad ke-20 yang dikenal sebagai abad modern, abad yang diramaikan berbagai kemajuan sebagai dampak dari revolusi industri. Inovasi berbagai material bangunan seperti baja, beton dan kaca, standarisasi dan efesiensi memberi tantangan baru dalam dunia rancang bangun. Beragam pemikiran dikemukakan arsitek di daratan Eropa dan Amerika. Pada saat itu mereka tengah berusaha mencari format arsitektur baru yang mencerminkan semangat zaman dengan mencoba meninggalkan pengaruh arsitektur klasik. Ada juga yang mengeksplorasi bentuk geometri murni dan anti dekorasi, seperti terlihat pada karya Le Corbusier (Charles Edouard Jeanneret) pada tahun 1920-an.
Ada juga yang mengeksplorasi integrasi kemajuan industri, teknologi dalam arsitektur, dan antidekorasi, seperti terlihat pada karya Ludwig Mies van der Rohe. Dua kelompok terakhir yang menyiratkan bentuk elementer, fungsional, dan antidekorasi ini dapat disebut sebagai arsitektur minimalis.
Seiring dengan perjalanan waktu, pengintegrasian kemajuan industri dan teknologi dalam arsitektur mendominasi arah perkembangan arsitektur. Kehadirannya yang terasa di berbagai belahan dunia membuatnya dijuluki sebagai International Style. Akan tetapi, lama-kelamaan masyarakat menjadi jenuh dengan gaya yang seragam. Bentuk dan pemikiran baru dalam arsitektur pun kembali digali. Pada akhir 1970-an mulai muncul arsitektur Postmodern sebagai reaksi atas keseragaman International Style. Postmodern membuka peluang terhadap bentuk, ornamen arsitektur klasik menjadi bentuk yang imajinatif. Pada tahun 1980-an muncul arsitektur Dekonstruksi yang ”seolah-olah” mendobrak kesatuan dan harmoni salah satu pakem komposisi sebuah desain.
Lagi-lagi, orang menjadi jenuh dengan arsitektur Postmodern dan Dekonstruksi. Kedua tren yang mengolah sudut tegas bentuk geometris menjadi sesuatu yang lebih kompleks ini mendorong orang kembali kepada sesuatu yang esensial, arsitektur yang mengandalkan bentuk geometris murni, elementer, sudut tegas dalam nuansa warna netral atau putih.
Tahun 1990-an oleh Kliczkowski dianggap sebagai titik balik bersinarnya kembali arsitektur minimalis, seperti yang diungkapkan dalam bukunya, Maximalism Maximalismo (Loft Publication, Spain, 2003).
Le Corbusier dan Van der Rohe
Kehadiran kembali arsitektur minimalis saat ini maupun keberadaannya pada masa lampau tidak terlepas dari pengaruh Le Corbusier dan Ludwig Mies van der Rohe.
Ungkapan Mies van der Rohe ”Less is more” (1923) yang sangat terkenal dianggap sebagai penanda keberadaan arsitektur minimalis hingga saat ini.
Farnsworth House, rumah peristirahatan milik Edith Farnsworth, Fox River, Illinois (1949-1951), dan Seagram Building merupakan contoh aplikasi ungkapan Van der Rohe. Kemewahan tumbuh dari kesederhanaan tatanan ruang dalam open plan dan keapikan dari susunan detail struktur dan arsitektur. Penyelesaian secara struktural dan arsitektural kolom baja, balok baja, pelat datar, dan dinding masif, transparan pada bangunan itu sendirilah yang menjadi ”dekorasi”.
Purisme merupakan pemikiran Le Corbusier yang menyatakan bahwa bentuk-bentuk murni seperti bola, kubus, dan piramida mempunyai hukum estetika yang abadi (1920-an). Villa Savoye di Poissy merupakan salah satu refleksinya.
Secara visual, vila ini terbentuk dari komposisi bentuk geometris. Tidak terdapat unsur dekoratif. Bagi Corbusier, dekorasi hanyalah taktik untuk menyembunyikan kesalahan pembangunan.
Selain komposisi bentuk geometri yang menjadi ciri karyanya, Corbusier menampilkan elemen unik, yaitu penggunaan ramp sebagai pengganti tangga atau jembatan. Sesuatu yang belum lazim saat itu, tetapi saat ini menjadi elemen arsitektur yang memberi warna tersendiri bagi arsitektur gaya minimalis.

Januari 7, 2010 Posted by | Arsitektur | , , | Tinggalkan sebuah Komentar

ARCHICAD…SOLUSI CEPAT DI JALUR PADAT

…Pasti semua sudah tahu dengan yang namanya Autocad, Sketchup, 3Dsmax dan Archicad dan Hold em’poker…(kayaknya yang terakhir tidak termasuk deh…) bagi chipnya dong…he..he…!

Software-software diatas kayaknya sudah menjadi kebutuhan kalau ingin “bersetubuh” dengan dunia properti. Baik itu perorangan, konsultan-konsultan arsitek bahkan mahasiswa-mahasiswa yang biasa di panggil “ana archi”. Bahkan bisa dibilang sudah menjadi trend visualisasi grafis, walaupun masih kalah rating dengan aplikasi yang bisa “menggrafiskan” isi hati yang biasa disapa FB. “apa yang anda pikirkan?”….
…Itulah yang sedang kupikirkan, apa kata dunia (…pinjam kata-kata Bang Naga Bonar) kalau kita sama sekali tidak menguasai atau minimal menggunakan Cup, Cad dan Max diatas?…anggaplah kita memiliki sebuah konsep yang bagus, tetapi karena keterbatasan teknologi sehingga kita tidak bisa menvisualisasikannya..itu salah satu contoh. Belum lagi di jaman sekarang untuk menyelesaikan sebuah project kita dituntut harus profesional yaitu harus tepat waktu alias kejar tayang plus baik, cantik, indah dan rapi….saya pikir jawabannya ada diatas..he..he…
Mungkin masih ada yang mengandalkan freehand alias manual bin mistar segitiga. Memang, freehand memiliki daya tarik tersendiri..(dunia juga mengakui), Tapi…kalau dapat mega proyek, gmana? jawab sendiri yah….bisa-bisa dua tahun baru selesai dibandingkan kalau pake yang diatas (jangan liat keatap yah…pissss) bisa selesai dalam dua minggu sambil iseng-iseng menulis komentar di FB…mantapppppp!

apalagi kalau bicara efisien….kalau pake software diatas medianya cuma sebesar koper bahkan ada yang bisa ditenteng-tenteng di mall kayak cewek…he..he…mau kerja di kebun juga boleh sambil tanam tomat apel…memang agak mahal, tapi puasa dua bulan bisa dapat…he..he..he..

Cukup basa-basinya…kita kembali ke tema diatas. Apakah Archicad itu? jujur saya juga belum tahu siapa itu archicad…postingan kali ini cuma ingin sharing aja sesuai dengan apa yang pernah dialami.Banyak yang bilang, kalau untuk bikin gambar 3D harus harus punya spek yang mumpuni jangan yang jadul kalau tidak ingin ngadat.Dengan persepsi demikian sehingga banyak yang enggan untuk “berteman” dengan aplikasi diatas kalau tidak terpaksa harus upgrade, upgrade dan upgrade lagi…lantas bagaimana dengan dengan yang punya kantong mahasiswa apalagi yang dirantau orang (kayak yang nulis blog ini..hehehehe) apakah harus pasrah dengan kenyataan? tentu tidak dong…salah satunya Archicad mungkin jadi solusinya.
Kenapa Archicad?…dari perbandingan penulis (bukan test benchmarking 3D lho, cuma personal test aja) dengan menggunakan spek  kompie yang standart aja dua project 2D dan 3D bisa terselesaikan dengan mulus dalam waktu satu minggu.Dan yang paling bikin jatuh cinta sama aplikasi yang satu ini, yaitu waktu render yang tidak terlalu lama dibanding dengan aplikasi sejenis. sebagai perbandingan (personal test) sewaktu menggunakan 3Dsmax dan sketchup untuk merender perspektif(kelihatan seluruh site) butuh waktu sekitar 15 menit sedangkan Archicad tercatat hanya membutuhkan waktu 2 menit dengan mengaktifkan seluruh shadow object, tranparent,reflectance dan bla…bla…(visit: Gallery) dengan komputer yang sama.So…apa yang anda pikirkan?….
Kayaknya cukup sekian dulu posting kali ini, sekedar perkenalan. Kalau ada yang kurang mohon ditambahkan, kalau ada yang keliru tolong diperbaiki. Tulisan ini hanya sekedar sharing dan belajar karena masih banyak hal yang harus diketahui siapa tahu bisa ber-impact buat orang lain. Posting berikutnya akan dicoba bahas aplikasinya…

Thanks, udah berkunjung ke blog yang amat sangat sederhana ini…

oya, jangan lupa komentnya…

“Jayalah Arsitektur!”

Januari 1, 2010 Posted by | Archicad | , , , | 3 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.